CERITA
TANGERANG

RISO ZINE · ED. PERTAMA · 2026

← Daftar isi

№ 13

ANAK SEKOLAH PULANG KE CILEGON

Setiap Jumat sore, dua bus jemputan SMA dari Tangerang ke Cilegon. Anak-anak SMA yang sekolah di Tangerang, pulang ke kampung halaman.

Bus jemputan SMA Negeri 8 Tangerang berangkat dari sekolah pukul empat sore tiap hari Jumat. Tujuan: Cilegon. Sudah delapan tahun jadwal yang sama.

Penumpangnya empat puluh anak-anak SMA yang asalnya dari Cilegon tapi sekolah di Tangerang karena alasan masing-masing — kost di sini, ngikut sodara, atau orangtua kerja di Tangerang. Mereka pulang setiap Jumat sore, kembali Minggu malam.

Sopir bus, Pak Untung, sudah hafal anak-anak. Dia tahu yang biasa duduk di belakang (kelompok teman yang berisik), yang biasa duduk di tengah (yang suka tidur), yang biasa duduk di depan (yang gampang mabuk).

Pak Untung tahu juga yang dari keluarga yang lebih mampu (yang turun di Cilegon kota, biasanya dengan tas branded), dan yang dari keluarga sederhana (yang turun di Anyer atau Bojonegara, biasanya dengan tas plastik).

Dia tidak treat mereka berbeda. Semua dipanggil “Mas/Mbak”. Semua dapat boleh berdiri kalau bus penuh. Semua dapat ditegur kalau berisik berlebihan.

Perjalanan: tiga jam kalau lancar, lima jam kalau macet. Anak-anak makan bekal di bus — biasanya nasi kotak yang sudah disiapkan ibu kost atau warung dekat sekolah.

Saat sampai terminal Cilegon, anak-anak turun, jemputan keluarga sudah menunggu. Sebagian besar tidak ada yang menjemput — mereka ojek atau angkot ke rumah masing-masing.

Pak Untung istirahat dua jam di terminal. Beli makan di warung depan terminal. Lalu kembali ke Tangerang sendiri — bus kosong, lebih cepat.

Minggu malam, pukul tujuh, dia kembali ke terminal Cilegon. Anak-anak datang satu per satu dengan tas yang lebih berat dari Jumat (bawa oleh-oleh dari rumah, biasanya makanan kering atau pakaian bersih untuk seminggu). Bus berangkat pukul delapan. Sampai Tangerang pukul sebelas atau dua belas.

Itu siklus mingguan delapan tahun Pak Untung.

Dia tidak romantisasi pekerjaannya. Dia juga tidak komplain. Dia hanya menyetir bus, kasih anak-anak Cilegon kesempatan sekolah di kota yang berbeda. Pekerjaan yang biasa.


Tukang Bakso Mampang Subuh

Pinggir Cisadane, Kardus Tertumpuk

↑ Daftar isi