CERITA
TANGERANG

RISO ZINE · ED. PERTAMA · 2026

← Daftar isi

№ 14

PINGGIR CISADANE, KARDUS TERTUMPUK

Di pinggir Cisadane dekat jembatan Pinangsia, ada keluarga yang tinggal di kardus. Pak Karim, istrinya, dua anak. Mereka tidak terlihat dari jalan utama.

Di pinggir Cisadane dekat jembatan Pinangsia, di area yang masih berlumpur saat musim hujan, ada keluarga yang tinggal di kardus.

Pak Karim, 40-an, istri Bu Yati, anak yang sulung Adi (10 tahun) dan yang kecil Ratih (7 tahun). Tempat tinggal mereka: empat dinding kardus tebal, satu atap plastik biru, satu kasur lipat dari styrofoam dengan kain seprei yang sudah lusuh.

Mereka bukan tunawisma yang Anda lihat di iklan kepedulian sosial. Mereka punya tempat. Hanya tempatnya darurat.

Pak Karim kerja sebagai kuli bongkar di pasar Mauk. Pukul tiga subuh berangkat dengan sepeda yang dia bayar 50 ribu di pelelangan barang temuan. Pukul satu siang pulang. Upah hari itu: 80-100 ribu.

Bu Yati di rumah jaga anak. Dia mencuci pakaian di Cisadane karena air rumah tidak ada — kalau musim kemarau, dia berjalan ke masjid 200 meter untuk ambil air dengan ember.

Anak-anak sekolah. Adi kelas 4 SD negeri di Kompleks Sebrang. Ratih kelas 1 SD. Mereka jalan kaki 1.5 km tiap pagi. Uang jajan dari ibu: 2000 untuk dua anak. Cukup untuk beli ciki dan air.

Saya tahu keluarga ini karena kebetulan saya jalan-jalan di pinggir Cisadane untuk foto-foto zine. Saya datang, perkenalkan diri sebagai mahasiswa yang lagi belajar fotografi. Pak Karim mempersilakan saya foto rumah mereka, tapi minta wajah anak-anak tidak masuk frame.

“Anak saya gak mau diketahui temen-temen sekolahnya tinggal di sini,” kata Pak Karim. “Saya ngerti. Kalau mereka tahu, anak saya akan di-bully.”

Saya hormati permintaan dia. Foto saya hanya tangga kardus, kasur lipat, panci yang menjemur di pinggir kardus.

Saya bayar Pak Karim 50 ribu untuk waktu dia. Dia menolak. Saya bilang itu untuk waktu — bukan untuk foto. Dia akhirnya menerima dengan dua tangan.

Saya pulang. Saya tidak akan kembali ke pinggir Cisadane untuk Pak Karim spesifik. Saya tidak ingin jadi orang yang melakukan visitasi seperti turis kemiskinan.

Tapi saya akan ingat. Kadang yang penting bukan dokumentasi yang viral. Yang penting yang mengingat dengan jujur.


Anak Sekolah Pulang ke Cilegon

Bengkel Pak Yusuf Daan Mogot

↑ Daftar isi