TUKANG TAMBAL SANDAL CURUG
Pak Munaji tambal sandal di pinggir pasar Curug. Pelanggannya: anak SD yang sandal sekolahnya jebol, ibu-ibu yang sandal jepit-nya patah. Harga: tiga ribu.
DITULIS 27 MEI 2026 · 275 KATA
Pak Munaji punya lapak kecil di pinggir pasar Curug. Lapaknya: meja kayu kecil 60x40cm, dua kursi plastik untuk pelanggan, satu lemari rotan berisi alat-alat (jarum, benang nilon, lem karet, gunting). Plus satu papan tulisan kapur: “TAMBAL SANDAL — Rp 3.000”.
Pelanggannya kebanyakan: anak SD yang sandal sekolahnya jebol di hari Senin (dan mereka harus segera kembali ke kelas), ibu-ibu yang sandal jepit-nya patah saat belanja, atau kakek-kakek yang sepatu kulitnya minta jahit ulang.
Pak Munaji 60-an, tangannya stabil. Dia tahu cara perbaiki sandal yang sebenarnya sudah harus dibuang — pakai jarum lebih besar, benang lebih kuat, plester karet di dasar.
Tiga ribu rupiah untuk tambal sandal di tahun 2026 adalah harga yang tidak logis. Inflasi 4-5% per tahun sejak dia mulai tahun 1995 berarti tarif yang sekarang seharusnya 25-30 ribu. Tapi Pak Munaji tetap di tiga ribu.
Saya tanya: “Pak, kenapa nggak naikin harga?”
Dia menatap saya sebentar. Lalu, “Mas, pelanggan saya kebanyakan anak SD. Kalau saya naikin jadi sepuluh ribu, mereka tidak akan tambal sandal — orangtua mereka akan bilang ‘beli baru saja’. Padahal sandal mereka masih bagus, cuma jebol satu sisi.”
“Pak rugi?”
“Tidak rugi. Saya gak punya cicilan, gak punya KPR. Rumah saya warisan dari ayah. Anak saya sudah lulus, kerja di Bandung. Saya tidak butuh banyak. Yang saya butuh: ngerasa berguna setiap hari.”
Saya tanya: “Pak akan terus jualan?”
“Sampai tangan saya tidak bisa lagi pegang jarum.”
Saya bayar lebih untuk dua sandal yang dia tambal. Dia menerima dengan dua tangan. Tidak ngomong terima kasih berlebihan. Hanya angguk, lalu kembali ke pekerjaannya.
Anak SD kelas 4 datang berikutnya dengan sandal jebol. Pak Munaji ambil jarum, mulai jahit. Anak itu nunggu di kursi plastik, kakinya goyang-goyang.
Tiga ribu rupiah. Tiga puluh tahun. Itu economy yang tidak diukur GDP.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana