TUKANG BECAK PULAU MARUNDA
Pulau Marunda — bagian Jakarta yang terlupakan. Becak masih jadi transportasi utama. Pak Sariman 35 tahun mengayuh becak yang sama.
DITULIS 26 MEI 2026 · 290 KATA
Pulau Marunda adalah bagian Jakarta Utara yang sebagian besar orang Jakarta tidak pernah ke sana. Untuk sampai sana, dari pelabuhan Marunda harus naik perahu motor 15 menit. Atau jalan kaki via jembatan sederhana yang dibangun tahun 2018.
Di Pulau Marunda, becak masih jadi transportasi utama. Bukan karena nostalgia. Karena jalan-jalan di pulau ini terlalu sempit untuk angkot dan mobil. Motor bisa tapi gerobak becak masih lebih efisien untuk angkut barang plus penumpang.
Pak Sariman 35 tahun ngayuh becak di Pulau Marunda. Dia 60-an, tubuhnya kurus tapi kakinya masih kuat. Becaknya yang sama sejak 1993 — sudah diperbaiki banyak kali, tapi rangka utama tetap.
Tarif Pak Sariman: 10-15 ribu untuk perjalanan dalam pulau. 25 ribu untuk angkut barang dari pelabuhan ke rumah warga.
Penumpangnya: ibu-ibu yang baru pulang belanja dari pasar besar di seberang, anak-anak yang pulang sekolah (sekolah ada di pulau, sampai SMP), kakek-kakek yang mau ke puskesmas.
Pak Sariman hafal setiap rumah di Pulau Marunda — sekitar 300 rumah total. Dia tahu siapa yang baru pulang dari kerja, siapa yang sakit, siapa yang mau acara hajatan, siapa yang baru kehilangan keluarga.
Sopir Grab tidak datang ke Pulau Marunda. Tidak ada cabang Gojek. Ojek online tidak menerima order. Pulau Marunda adalah salah satu sisa wilayah Jakarta yang masih beroperasi dengan ekonomi lokal nyaris penuh — tidak via aplikasi, tidak via platform.
Pak Sariman tidak mengeluh tentang ojek online “mencaplok rezeki”. Dia tahu ojek online tidak mau masuk ke sini. “Mas, Marunda itu seperti negara kecil di tengah negara besar. Kita ngga ikut zona digital. Tapi kita masih punya tetangga.”
Saya pulang dari Marunda dengan perahu yang sama saya datang. Pak Sariman dan becaknya tetap di sana, tertinggal dari foto belakang saya yang terus menjauh.
Pulau Marunda tetap berdiri seperti dulu, di antara dua jembatan tol yang sebenarnya tidak terhubung dengan kehidupan di dalamnya.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana