PENJUAL KERUPUK KELILING
Bu Rohimah keliling kompleks Cipondoh dengan ember besar berisi kerupuk. 25 tahun rute yang sama. Pelanggan yang sama. Hanya anak-anak pelanggan yang tumbuh.
DITULIS 25 MEI 2026 · 280 KATA
Bu Rohimah keliling kompleks Bukit Cipondoh setiap hari dengan ember besar berisi kerupuk. Pukul tiga sore mulai, pukul tujuh malam selesai. 25 tahun rute yang sama.
Kerupuknya: kerupuk udang (10 ribu sebungkus), kerupuk bawang (8 ribu), kerupuk emping melinjo (15 ribu yang lebih premium). Dia bikin sendiri di rumahnya di Kampung Petukangan — proses penggorengan tiap pagi sebelum keliling.
Pelanggan tetap Bu Rohimah: 47 rumah di tiga RT. Setiap rumah, dia hafal preferensinya. Bu Eni di Blok C7 selalu kerupuk udang. Pak Hartono di Blok A12 selalu kerupuk bawang. Bu Marina di Blok D3 ganti-ganti — tergantung mood.
Selama 25 tahun, Bu Rohimah melihat anak-anak pelanggan tumbuh. Yang dulu balita sekarang kuliah. Yang dulu kelas 1 SD sekarang sudah menikah dan beli rumah sendiri. Beberapa pelanggan asli sudah pindah atau meninggal — anak mereka yang menempati rumah yang sama, sebagian tetap jadi pelanggan, sebagian tidak.
Bu Rohimah bilang ke saya: “Mas, saya tidak pernah hitung omzet bulanan. Saya cuma tahu, kalau hari ini jualan habis, hari ini cukup. Kalau sisa, dimakan keluarga sendiri.”
Suami Bu Rohimah meninggal tahun 2018 — kecelakaan motor saat pulang kerja dari pabrik di Cengkareng. Anak-anaknya: yang sulung sudah menikah, tinggal di Karawang. Yang tengah masih kuliah di Untirta. Yang bungsu SMA kelas 3.
Bu Rohimah tetap jualan sendiri. Tidak ada karyawan. Dia tidak bisa scale up — kapasitas produksi terbatas oleh dia sendiri. Tapi dia tidak ingin scale up. “Kalau saya jualan lebih banyak, saya tidak bisa kenal nama pelanggan saya.”
Saya borong kerupuk dari Bu Rohimah hari itu — 200 ribu untuk 20 bungkus, untuk acara keluarga di rumah. Bu Rohimah tidak menaikkan harga karena saya beli banyak. Tarif sama seperti pelanggan reguler.
Saya pulang dengan kerupuk yang banyak dan pikiran bahwa ada ekonomi yang dijalankan bukan untuk maksimasi keuntungan. Hanya untuk hidup yang cukup, di komunitas yang tahu nama Anda.
Konteks ekonomi konsumen kelas pekerja: promo Indomaret weekend deal.
DITULIS OLEH Iqbal Maulana